Belajar Dari Perilaku Santun Rasulullah Saw
Sikap Santun Rosululloh al-Hilm (penyantun) ialah keadaan diantara dua hal yang jelek, yaitu murka dan bodoh, maka kalau seseorang menuruti kemauan marahnya tanpa logika dan pedoman (bashiroh) beliau telah jatuh pada keburukan , dan kalau beliau berbuat bodoh, menyia-nyiakan haknya dan rela dengan kemarahan, aniaya dan kedzaliman beliau telah jatuh pada keburukan. akan tetapi kalau di menghiasi dirinya dengan sifat santun padahal beliau bisa melepas kemarahannya, maka kesantunannya terhadap orang-orang yang berhak disantuni menjadi-kannya berada dalam keutamaan (fadhilah). Disana ada kaitan yang akrab antara al-hilmu dan menahan marah. Bahwa menahan murka ialah awal dari sifat penyantun (sebuah sifat yang utama lagi mulia), dan menahan murka membutuhkan pada pembatalan sesuatu (dari jiwa), peperangan dan ketabahan jiwa. Maka kalau kekuatan menahan murka ini telah menjadi abjad yang menancap dalam jiwa dan menjadi tabiatnya, demikian itulah yang disebut ...