Cara Bertaubat Dari Sikap Dzalim Yang Pernah Di Lakukan Kepada Orang Lain


Tobat dari Dzolim
Tidak ada satu orangpun di dunia ini kecuali ia berbuat dzolim lagi bodoh. Begitulah yang disifati Alloh   di dalam al-Qur’an saat Alloh   membebankan amanah yang langit dan bumi enggan menerimanya kemudian diberikan kepada insan seraya berfirman:
 “… Sesungguhnya insan itu amat dzolim dan amat bodoh.” (QS. al-Ahzab [33]: 72)

Sudah sepantasnya bagi orang dzolim untuk senantiasa bertobat. Inilah obat dari kedzoliman yang paling mujarab.
Alloh   berfirman:
“Maka barangsiapa yang bertobat setelah melaksanakan kedzoliman itu dan memperbaiki diri, maka Alloh mendapatkan tobatnya. Sesungguhnya Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Maidah [5]: 39)

Ayat ini turun setelah Nabi   memotong tangan wanita yang mencuri yang wajib dipotong tangannya. Kemudian wanita mu’minah tersebut berkata pada Rosululloh  , “Wahai Rosululloh, apakah bagi saya tobat atas perbuatan saya selama ini?” Rosululloh   bersabda, “Ya, pada hari ini engkau terhadap kesalahan-kesalahanmu ibarat bayi yang gres dilahirkan ibunya yang bebas dari dosa.” (HR. Ahmad)
Allah   berfirman:

“Sesungguhnya jikalau mereka yang berbuat dzolim tiba kepadamu (Muhammad  ), kemudian memohon ampun kepada Alloh, dan Rosulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Alloh Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. an-Nisaa’ [4]: 64)

Itulah bertobat dari kedzoliman yang berkaitan dengan hak Alloh  . Adapun tobat dari kedzoliman yang hubungannya dengan darah insan ibarat membunuh, maka tidak cukup dengan bertobat, melainkan harus menyerahkan diri kepada keluarga yang dibunuh dan mereka menentukan apakah membunuh orang tersebut atau memaafkan atau membayar diyah atau denda dari pembunuhan tersebut. Dan bila berafiliasi dengan harta, maka tobatnya harus dengan mengembalikan harta tersebut pada yang punya. Untuk bertobat tidak mesti ditegakkan had atasnya. Tidak pantas bagi orang yang dzolim karam dalam kedzolimannya. Dan hendaknya ia merenungkan firman Alloh  :

“Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau dzolim, mereka mengingat Alloh, kemudian memohon ampun atas dosa–dosa mereka. Dan siapa lagi yang sanggup mengampuni dosa mereka selain daripada Alloh? Dan tidak meneruskan perbuatan keji dan dzolimnya sedangkan mereka mengetahui. Mereka jadinya yaitu ampunan dari yang kuasa mereka dan nirwana yang di dalamnya mengalir sungai, sedang mereka infinit di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang yang beramal.” (QS. Ali Imron [3]: 135-136)

Para Penjual Pahala dengan Siksa Api di Neraka

Adakah yang lebih rugi dari orang-orang yang memiliki segunung kebaikan namun kebaikannya habis untuk membayar kedzolimannya atas saudaranya? Itulah para muflisin (orang-orang yang bangkrut) yang senantiasa berbuat dzolim kepada saudaranya. Imam Muslim   dalam shohihnya di kepingan “Haramnya kedzoliman” menyebutkan hadits  dari Abu  Huroiroh   perihal pera penjual pahala dengan siksa tersebut.

“Dari Abu Huroirah bekerjsama Rosululloh   bersabda, ‘Tahukah kalian semua siapa orang yang gulung tikar itu?’ Para sahabat berkata, ‘orang yang gulung tikar dikalangan kita yaitu orang yang tidak punya dirham (harta) dan barang dagangan.’ Maka Rosululloh   bersabda, “Sesungguhnya orang yang gulung tikar dikalangan umatku yaitu mereka yang tiba pada hari final zaman dengan membawawa pahala sholat dan puasa, dan zakat dan kemudian tiba bersama pahala tersebut, ia dahulu telah mencela saudaranya, dan menuduhnya dengan yang haram, begitu juga memakan harta orang lain, menumpahkan darah dan memukul orang lain. Maka pahala kebaikan orang itu diberikan pada orang yang didzoliminya saat di dunia tersebut. Ketika pahala mereka habis untuk menebus kedzolimannya sementara masih ada kedzoliman yang belum diadili, maka dosa dan kesalahan orang yang didzoliminya akan diletakkan kepadanya dan kemudian ia dilemparkan ke neraka (karena segunung kebaikannya habis untuk menebus kedzolimanya).” (HR. Muslim)

Itulah keadilan Alloh   bagi para hamba-Nya. Bahkan alasannya yaitu keadilan Alloh  , binatang yang bertanduk bila mendzolimi binatang yang tidak bertanduk di dunia, maka di darul abadi binatang yang tidak bertanduk akan menanduk binatang yang bertanduk tersebut. Semua itu alasannya yaitu Alloh   telah mengharamkan kedzoliman bagi makhluk-Nya.

Saudaraku para pembaca tercinta… adakah yang lebih rugi dari mereka yang merasa bertaqwa dengan segala amal perbuatannya, sementara dirinya berbuat dzolim dengan rakyatnya, bawahannya, tetangganya, keluarganya serta istri dan anaknya?

Aduhai sungguh merugi orang-orang yang mendzolimi saudaranya dan menduga ia telah berbuat amalan utama dan merasa masuk surga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tujuan Dan Manfaat Mempelajari Sirah Nabi

Apa Aturan Mengambil Bunga Bank ? Dan Jenis Muamalah Yang Bekerjasama Dengan Bank